KEJUJURAN
YANG TERCELA
Pada dasarnya, kejujuran
itu sangat terpuji dalam syari’at Islam telah dijelaskan bahwa kejujuran itu
merupakan sifat orang yang beriman.
إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ الّذِينَ آمَنُواْ
بِاللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمّ لَمْ يَرْتَابُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـَئِكَ هُمُ الصّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu; dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan
Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” [QS. Al-Hujuraat: 15].
Bahkan kejujuran itu akan membawa
pelakunya kedalam surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Berpegangteguhlah pada kejujuran karena
kejujuran membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa kepada surga. Dan
sesungguhnya seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran hingga ia
dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah kamu terhadap
kedustaan karena kedustaan membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa kepada
neraka. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan
hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta“ [HR. Bukhari no. 6094
dan Muslim no. 2607].
Akan tetapi, ada beberapa
hal yang dikecualikan dimana orang yang jujur malah tidak mendapat sanjungan
sebagaimana di atas. Apakah itu?
1. Ghibah
Ghibah atau menggunjing
(ngrumpi, nggosip) merupakan perkataan jujur yang tercela dan merupakan khianat
terhadap aib-aib kaum muslimin yang seharusnya ditutupi. Allah ta’ala berfirman:
وَلاَ
يَغْتَب بّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوه
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing
sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya
yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya “ [QS. Al-Hujuraat:
12].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أتدرون
ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل فرأيت إن كان في أخي
ما أقول قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته
“Apakah kalian tahu apa ghibah itu?” Para
shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda : ”Jika
kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci, maka kamu telah melakukan
ghibah”. Beliau ditanya : ”Bagaimana jika sesuatu yang aku katakan ada pada
saudaraku?” Beliau menjawab : ”Bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya
maka kamu telah melakukan ghibah, dan apabila yang kamu bicarakan tidak ada
maka kamu telah membuat kebohongan atasnya “ [HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud
no. 4874, At-Tirmidzi no. 1934, Ahmad 2/230, Ad-Darimi no. 2717, dan yang
lainnya].
2. Namimah
(mengadu domba)
Namimah lebih tercela dan
lebih buruk daripada ghibah. Disamping itu merupakan pengkhianatan dan kehinaan
yang kemudian berakhir dengan percekcokan, pemutusan silaturahim, dan kebencian
di antara teman. Allah ta’ala telah mencela orang yang berperangai seperti ini
dengan firman-Nya:
وَلا
تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ
مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang
banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur
fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”
[QS. Al-Qalam: 10-12].
Tidak disangsikan lagi
bahwa namimah termasuk salah satu jenis dosa besar. Oleh karena itu Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang namimah dengan sabdanya :
لا
يدخل الجنة نمام
“Tidak akan masuk surga orang yang mengadu
domba” [HR. Al-Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105].
Orang yang mengadu domba
adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah, penghuni neraka jahannam dan
bila tidak bertaubat akan menjadi hamba yang terhina di dunia dan putus asa
dari rahmat Allah di akhirat.
3. Menyebarkan
Rahasia
Menyebarkan rahasia adalah
satu kejujuran yang sangat tercela dan merupakan bukti pengkhianatan dari
pelakunya. Ia merupakan satu sikap khianat terhadap amanah. Allah ta’ala telah
mengabadikan satu contoh dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ
أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ
وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا
نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ
الْخَبِيرُ
”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara
rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa.
Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah
memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada
Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah
kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala
(Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah
bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab:
“Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal” [QS. At-Tahrim : 3].
Ayat di atas berisi
terkandung satu teguran bagi Ummul-Mukminin Hafshah binti ’Umar bin
Al-Khaththab ketika ia membocorkan rahasia Rasulullah shallallaahu ’alaihi
wasallam yang seharusnya ia simpan. Ia melakukannya karena rasa cemburu dengan
madunya (istri beliau shallallaahu ’alaihi wasallam yang lain). Setelah
mendapat teguran dari Allah dan Rasul-Nya melalui ayat tersebut, maka ia adalah
salah satu wanita yang paling cepat sadar akan kesalahannya, bertaubat, dan
kembali kepada kebenaran.
semoga kita senantiasa bertaubat dari semua kesalahan dan terhindar dari kejujuran yang tercela aamiin :-)
BalasHapusOk Bagus Semangat ya
BalasHapus